Laporan Hasil Praktikum Eksoterm dan Endoterm
Hari/tanggal : Rabu, 11 September 2013
Tujuan
praktikum :
ª
Mengetahui
reaksi endoterm dan eksoterm ;
ª
Mengamati terjadinya reaksi eksoterm dan
reaksi endoterm ;
ª
mengetahui
produk-produk apa saja yang cocok dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari ;
ª
Mengamati ciri-ciri reaksi eksoterm dan reaksi
endoterm ;
ª
Mempelajari perubahan energi pada reaksi kimia.
Tinjauan
teoritis :
Sebelum
mempelajari reaksi endoterm dan eksoterm terlebih dahulu kita mempelajari
sistem dan lingkungan. sistem adalah reaksi kimia yang sedang diamati atau
dipelajari. lingkungan adalah segala sesuatu diluar sistem. reaksi endoterm
adalah reaksi yang melepaskan kalor dari sistem ke lingkungan, yang mempunyai
perubahan entalpi (∆H)
negatif (-), sedangkan reaksi eksoterm adalah reaksi yang menyerap kalor dari
sistem ke lingkungan, yang mempunyai perubahan entalpi (∆H)
positif (+). berikut diagram reaksi endoterm dan eksoterm:

H H
Reaksi
eksoterm Reaksi endoterm
∆H
= HP - HR = - (<0) ∆H
= HP - HR = + (>0)
Teori :
Reaksi eksoterm
adalah reaksi yang membebaskan kalor. Contoh
Eksoterm: membakar minyak tanah di kompor minyak dan nyala api unggun.
Reaksi
endoterm adalah reaksi yang menyerap kalor. Contoh Endoterm: asimilasi dan
fotosintesis.
Pada reaksi
eksoterm, kalor mengalir dari sistem ke lingkungan sehingga entalpi sistem akan
berkurang, artinya entalpi produk (Hp) lebih kecil dari pada entalpi
pereaksi (Hr). Oleh karena itu perubahan entalpinya (ΔH) bertanda
negatif.
Reaksi
Eksoterm: ΔH = Hp –Hr < 0 (negatif)
Pada reaksi
endoterm,sistem menyerap energi. Oleh karena itu, entalpi sistem akan
bertambah, artinya entalpi produk (Hp) lebih besar dari pada entalpi
pereaksi (Hr). Akibatnya, perubahan entalpinya (ΔH) bertanda
positif.
Reaksi
Endoterm: ΔH = Hp –Hr > 0 (positif)
Perubahan entalpi pada reaksi eksoterm
dan endoterm dapat dinyatakan dengan diagram tingkat energi seperti berikut
ini:
Pada reaksi eksoterm terjadi
perpindahan kalor dari sistem ke lingkungan atau pada reaksi tersebut
dikeluarkan panas.
Pada reaksi eksoterm harga DH = ( - )
Contoh : C(s) + O2(g) ® CO2(g) + 393.5 kJ ; DH = -393.5 kJ
Pada reaksi eksoterm harga DH = ( - )
Contoh : C(s) + O2(g) ® CO2(g) + 393.5 kJ ; DH = -393.5 kJ
Pada reaksi endoterm terjadi
perpindahan kalor dari lingkungan ke sistem atau pada reaksi tersebut
dibutuhkan panas.
Pada reaksi endoterm harga DH = ( + )
Contoh : CaCO3(s) ® CaO(s) + CO2(g) - 178.5 kJ ; DH = +178.5 kJ
Pada reaksi endoterm harga DH = ( + )
Contoh : CaCO3(s) ® CaO(s) + CO2(g) - 178.5 kJ ; DH = +178.5 kJ
Kalor reaksi adalah
kalor yang berpindah dari sistem ke lingkungan atau dari lingkungan ke sistem
agar temperatur sisitem sasudah reaksi sama dengan temperatur sistem sebelum
reaksi. Jenis reaksi dibedakan menjadi
dua yaitu,
a. Reaksi Eksoterm
Dalam reaksi eksoterm terjadi
perpindahan kalor dari sistem ke lingkungan. Dalam hal ini dapat di artikan
bahwa kalor di lepaskan ke lingkungan. Sistem ini membebaskan energi sehingga
entalpi sistem akan berkurang. Temperatur bertambah.
Contoh
reaksi eksoterm :
· Fermentasi
glukosa : C6H12O6(s) 2C2H5OH(l)+2CO2(g)
Pada reaksi
ini sistem mengalami kenaikan suhu sistem.
Reaksi Eksoterm : ΔH = HP
– HR < 0
ΔH
(perubahan entalpi)
HP
(entalpi produk)
HR
(entalpi pereaksi)
b. Reaksi Endoterm
Dalam reaksi endoterm terjadi perpindahan
kalor dari lingkungan ke sisitem. Temperatur larutan akan turun yang akhirnya
juga akan kembali ke temperatur semula. Sistem ii menyerap energi, oleh karena
itu enalpi akan bertambah.
Reaksi
Endoterm : ΔH = HP – HR > 0
ΔH (perubahan
entalpi)
HP
(entalpi produk)
HR
(entalpi pereaksi)
Perubahan entalpi pada reaksi eksoterm dan endoterm
dapat dinyatakan dengan diagram tingkat energi seperti berikut,
Alat Dan Bahan
|
NO
|
Alat
|
Jumlah
|
Ukuran
|
|
1
|
Termometer
|
1 buah
|
-
|
|
2
|
Gelas
|
4 buah
|
-
|
|
3
|
Mangkuk
|
1 buah
|
Sedang
|
|
4
|
Sendok makan
|
1 buah
|
Sedang
|
|
NO
|
Bahan
|
Jumlah
|
Ukuran
|
|
1
|
Deterjen (Boom)
|
1 bungkus
|
1 sendok
makan
|
|
2
|
Urea
|
1/2 kg
|
1 sendok
makan
|
|
3
|
Sabun Sunlight
|
1 bungkus
|
1 sendok
makan
|
|
4
|
Kapur sirih
|
1 botol
|
1 sendok
makan
|
|
5
|
Air
|
1 liter
|
4 x 100 ml
|
Prosedur Kerja :
|
NO
|
Prosedur
|
Hasil
Pengamatan
|
|
1
|
Isi ke 4 aqua gelas dengan air
setengannya
|
-
|
|
2
|
Ukur temperatur air
tersebut (temperatur mula-mula)
|
25°C
|
|
3
|
Masukkan deterjen kedalam aqua gelas
yang pertama, lalu aduk dan amatilah termometernya
|
Dari 25°C
menjadi 27°C
|
|
4
|
Masukkan kapur sirih kedalam aqua
gelas yang ke dua, lalu aduk dan amatilah termometernya
|
Dari 25°C
menjadi 27°C
|
|
5
|
Masukkan sabun kedalam aqua gelas yang
yang ketiga, lalu aduk dan amatilah termometernya
|
Dari 25°C
menjadi 26.6°C
|
|
6
|
Masukkan pupuk urea kedalam aqua gelas
yang ke empat, lalu aduk dan amatilah termometernya
|
Dari 25°C
menjadi 20°C
|
Pembahasan :
Jika deterjen
direaksikan dengan air maka suhunya akan naik dari 25°C
menjadi 27°C, dan jika kapur sirih direaksikan
dengan air maka suhunya akan naik dari 25°C
menjadi 27°C,
dan jika sabun direaksikan dengan air maka suhunya akan naik pula dari 25°C
menjadi 26.6°C,
dan jika Urea direaksikan dengan air maka suhunya akan turun dari 25°C
menjadi 20°C.
Kesimpulan :
ü Suhu
air mula-mula = 25°C
ü Air
+ deterjen = 25°C menjadi 27°C
(endoterm)
ü Air
+ kapur sirih = 25°C menjadi 27°C
(endoterm)
ü Air
+ sabun = 25°C menjadi 26.6°C
(endoterm)
üAir
+ Urea = 25°C menjadi 20°C
(eksoterm)
Daftar Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar